Setelah Dua Polisi Dikeroyok, Mapolres Mencekam...

Betapa dahsyatnya dampak berita di Kompas.  Saya merasakan itu pada tahun 1990. Berita yang saya tulis dan dimuat di Harian Kompas  Kamis 22 Maret 1990 berjudul "Dua Polisi Tangerang Luka Parah Dikeroyok" berdampak luas.  Sampai sekarang, saya tak bisa melupakan peristiwa ini.

Mengapa? Inilah cerita lengkapnya. Selasa 20 Maret 1990 menjelang tengah malam, saya mendapat informasi dari perawat Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Tangerang, ada dua polisi terluka dan dibawa ke UGD. Jarak rumah kos saya dengan RSU Tangerang kira-kira 1,5 km. Pada saat itu juga saya langsung ke UGD.

Dua anggota Polres Tangerang, Sertu Supriyono dan Koptu Hadi Wahyono, mengalami cedera cukup parah. Wajah babak belur dan bibir pecah-pecah berdarah. Saya bertemu dengan Kapolres Tangerang (waktu itu) Letkol Pol K. Soebono Adi.

Pak Kapolres mengatakan, dua anggotanya dikeroyok sekelompok pemuda di Terminal Cimone Tangerang. Meski sempat melawan, dua polisi ini tak berdaya dikeroyok sepuluh orang.  "Ini biadab, biadab sekali," kata Pak Kapolres geram. Pada tengah malam itu, wartawan yang ada di ruangan UGD RSU Tangerang hanya saya seorang. Peristiwa itu saya tulis dan dimuat di Harian Kompas Kamis 22 Maret 1990.

Sepanjang hari Kamis itu, suasana KotaTangerang normal. Namun pada malam harinya, Tangerang heboh. Malam itu, ratusan tentara berjalan kaki dari markasnya melewati markas Polres Tangerang, sambil bernyanyi.

Apa hubungannya peristiwa pengeroyokan dua polisi dengan acara baris-berbaris malam hari itu? Rupanya setelah dilakukan pengusutan, diketahui bahwa para pengeroyok dua polisi adalah sejumlah prajurit TNI. Dalam berita, saya tidak menulis pelakunya tentara. Saya hanya menulis "sekelompok pemuda". Namun dalam penyelidikan internal yang dilakukan Polda Metro Jaya dan Garnisun, diketahui pelakunya prajurit TNI AD. Sikap solidaritas menyebabkan satu batalyon tentara melakukan pamer kekuatan, berjalan kaki melewati markas Polres Tangerang.

Suasana mencekam. Malam itu markas Polres Tangerang gelap. Lampu sengaja dipadamkan. Seorang Pamapta yang baru lulus dari Akpol dan berpangkat Letda, Guntur Setiyanto, melukiskan suasana mencekam menyelimuti Polres Tangerang. Ia sendiri siaga dengan senjata laras panjang. Tapi sepanjang malam hingga esok paginya, tidak terjadi apa-apa.

Tapi sejak malam itu, polisi lalu lintas tidak tampak di Tangerang. Yang mengatur lalu lintas selama  10 hari adalah anggota Polisi Militer. Ketegangan itu berakhir setelah Bupati Tangerang Tadjus Sobirin, pensiunan tentara, mendamaikan kedua belah pihak. Ratusan anggota polisi dan tentara nonton bersama di bioskop di Tangerang.

Bagi saya, peristiwa ini sangat membekas di hati. Bagaimana mungkin berita pengeroyokan itu berdampak begitu dahsyat, pikir saya. Mungkin waktu itu saya masih berpikir polos. Beberapa teman wartawan yang sudah lama bertugas di Tangerang bercerita, sebetulnya, ketegangan antara polisi dan tentara sudah berulang kali terjadi di wilayah itu. Jadi ini semacam bom waktu, yang bisa meledak kapan saja. Entah kenapa, persoalan ini terus terjadi hingga kini. Bukan hanya di Tangerang, tetapi juga terjadi di banyak tempat.

Beberapa tahun kemudian, pada suatu waktu ada acara serah terima jabatan Pangdam Jaya, saya bertemu lagi dengan "Pak Danyon" yang pernah bikin heboh. Saya mengenalnya dari namanya. Waktu itu dia sudah berpangkat Kolonel dan memimpin Brigade Infantri.

"Selamat siang Pak, masih ingat saya? Saya ingat Bapak waktu masih jadi Danyon di Tangerang dan bikin heboh Tangerang," sapa saya kepadanya.

"Ah, masih ingat saja kau. Itu sudah masa lalu lah," jawabnya tertawa. Setelah bergaul dengan banyak tentara, akhirnya saya memahami betapa TNI AD dikenal memiliki solidaritas korps yang tinggi.


Robert Adhi Ksp
Serpong, 4 September 2012

Komentar