Serunya ke TKP Kapolsek Ditabrak Penjahat

Apa sebetulnya yang membuat pekerjaan wartawan mengasyikkan? Salah satunya datang ke lokasi kejadian dan dapat menceritakan secara lengkap peristiwa yang terjadi.

Ketika bertugas di Tangerang (1988-1990) sebagai koresponden lepas Kompas, saya begitu bersemangat menjelajahi wilayah itu dari ujung utara ke ujung selatan. Pernah pada suatu hari, tepatnya hari Kamis 22 Desember 1988, pagi hari saya berada di Mauk, di pantai utara Kabupaten Tangerang, lalu petang harinya saya langsung meluncur ke Parungpanjang, perbatasan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bogor. Jika diukur dengan jarak kilometer, sepanjang hari itu, saya sudah menempuh perjalanan lebih dari 100 km, padahal masih di wilayah Tangerang.

Di Mauk, saya bersama rekan seperjalanan, Sukri, menemui beberapa korban banjir yang kekurangan air bersih. Kali Cileles meluap, menyebabkan 1.125 rumah dan 410 hektar sawah supra-insus jalur pantura di Mauk Barat dan Mauk Timur terendam banjir 1 meter sampai 2 meter selama tiga hari.

Dalam perjalanan pulang ke Tangerang, kami mendapat informasi, ada Kapolsek luka parah ditabrak mobil penjahat. Karena beranggapan berita itu sangat menarik, kami pun sepakat ke Parungpanjang di perbatasan Tangerang-Bogor. Sebelumnya, saya menelepon redaktur Daerah Kompas, Mas Dedy Pristiwanto (PR). Kalau tak salah ingat, waktu itu Tangerang masih masuk bagian Desk Daerah, belum masuk Desk Kota. Untuk menelepon kantor, saya harus mencari telepon umum dulu. Setiap pembicaraan 3 menit, saya harus memasukkan koin.

Singkat cerita, Mas PR bilang, "Kejar berita itu  dan bikin beritanya yang lengkap. Kami beri tempat di halaman satu. Kalau sudah selesai, datang ke Jakarta ya." Mendengar itu, semangat saya makin berkobar. "Ayo Kri, kita ke TKP Parungpanjang," kataku kepada Sukri dari Pos Kota, kawan seperjalanan.

Kami tiba di Polsek Parungpanjang Kamis sore. Kami bertemu dengan anggota Polsek Parungpanjang, yang menceritakan Kapolsek Letda Pol Tatang mengalami luka parah karena ditabrak mobil penjahat yang dioperasikan sebagai angkutan umum. Bahkan kami masih sempat mewawancarai Kapolsek.

Ceritanya, kawanan penjahat itu sebelumnya merampok tiga penumpang yang semuanya perempuan. Ketika kendaraan melintas di depan Polsek Parungpanjang, salah seorang korban, Nurlaela berteriak, "Tolong, rampok, rampok..." Kebetulan Pak Kapolsek Letda Tatang mendengar teriakan minta tolong itu. Ia langsung mencari kendaraan dan mengejar para penjahat itu.

Kisah ini makin seru karena ternyata kawanan penjahat ini nekad menabrak kendaraan Kapolsek, yang menyebabkan Letda Tatang terjungkal. Penjahat kabur setelah menurunkan tiga korban di Malangnengah, sedangkan mereka tancap gas ke arah Legok.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup di lokasi kejadian dan mewawancarai sejumlah korban, akhirnya saya mengendarai Vespa ke Jakarta lewat Jalan Daan Mogot menuju Palmerah. Saya tiba di kantor Kompas sekitar pukul 20.00 dan langsung mengetik di mesik ketik. (Pada masa itu, alat kerja wartawan masih mesin ketik). Dalam keadaan lelah dan lapar, dan di bawah tekanan tenggat waktu, saya harus menyelesaikan berita itu segera.


Mencari berita-berita peristiwa kriminal langsung dari lokasi kejadian memang mengasyikkan. Meski menghabiskan energi yang lebih banyak, tapi saya merasa puas karena berita yang didapat dengan penuh keringat ini dimuat di halaman 1 di Harian Kompas, Jumat 23 Desember 1988. Apalagi hanya ada dua suratkabar yang memuat berita Kapolsek Ditabrak Penjahat itu, Kompas dan Pos Kota, dengan cerita yang lengkap.

Berita "Kapolsek Luka Parah, Ditabrak Mobil Penjahat" itu, mewarnai halaman satu Harian Kompas 23 Desember 1988. Pada berita utama (headline), ada berita peristiwa yang juga dramatis. "Boeing 747 Meledak, Sekitar 300 orang Tewas". Boeing 747 milik maskapai penerbangan Amerika Pan Am dalam perjalanan dari Bandara Heathrow London ke New York, jatuh di kota kecil Lockerbie di Skotlandia, membawa 258 penumpang. Peristiwanya Kamis dinihari waktu Indonesia.

Setiap kali membaca berita-berita Kompas, saya bertanya dalam hati: apakah pembaca Kompas pernah membayangkan bagaimana perjuangan wartawan memperoleh berita?


Robert Adhi Ksp
Serpong, 4 September 2012


Komentar